Wied Harry Apriadji :: Rasa Syukur Terhadap Makanan Sangat Penting Bagi Tubuh


Wied Harry Apriadji, Profil, Kabarsehat.comWied Harry Apriadji, laki-laki kelahiran 1960 alumnus Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga IPB Bogor dan mengenyam pendidikan manajemen pemasaran pada Program Magister Manajemen Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta ini, awalnya  kurang menaruh minat terhadap Food Combining. Namun, setelah mendalami sistem biokimiawi dan proses metabolisme tubuh, pakar gizi dan ahli masak sehat alami ini akhirnya berkesimpulan Food Combining rasional dan ilmiah.

Berkat ketekunannya menerapkan pola makan Food Combining, kadar trigliserida darahnya yang sangat tinggi (440 mg/dl) berangsur-angsur turun menjadi 160 mg/dl, dan tidak pernah lagi melonjak. Selain itu, keluhan sering pusing sebelah yang sangat kronis hingga membuatnya kerapkali membolos kerja, serta kecenderungannya mudah flu, gampang masuk angin, dan kebiasaan bersin-bersin setiap kali bangun pagi atau bila kedinginan, kini menghilang. Bahkan, sejak menjalankan pola makan Food Combining ia tidak pernah menderita flu.

Selama 20 tahun ia berkarier pada beberapa perusahaan pers terkemuka Ibukota. Di antaranya Majalah Trubus, Majalah Intisari (Kelompok Kompas-Gramedia), Seri Masak Primarasa (Femina Group), dan Majalah Nirmala; masing-masing selama 4-6 tahun. Kini ia sepenuhnya bekerja sebagai penulis bidang nutrisi dan makanan sehat alami, serta menjadi food stylistprofesional. Di antara kesibukannya, ia rutin melakukan yoga dan meditasi.

Hosting Stabil & Aman, Silahkan Klik

*Anda Ingin Berkonsultasi dapat melalui "Ruang Konsultasi" Silahkan Ads: Menulis cerpen layaknya mengatur dan merencanakan kehidupan di dunia fiksi, mencurahkan pikiran dan perasaan serta memilihkan nasib karakter tokoh cerita. Sungguh powerful. Kekuatan yang dapat dimiliki oleh penulis pemula sekalipun. sekolah Online Visikata

Itulah profil Wied Harry Apriadji yang terdapat dalam belasan buku hasil karyanya yang fokus pada makanan dan menu sehat. Untuk lebih  mengenal mas Wied maka Andre Birowo dan Sayuri Yosiana dari Kabarsehat.Com telah mewawancarainya.

Mas Wied, bagaimana awalnya Anda berkecimpung dan berkiprah dalam bidang gizi makanan dan  menu sehat?

Pendidikan S1 saya adalah nutrisi IPB (Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga). Ketermapilan memasak saya peroleh dari keterpaksaan, kemudian jadi hobi. Ada saat-saat saya kepepet sehingga harus memasak/membantu memasak. Ketika kuliah S1, saya adalah mahasiswa ‘sombong’ yang menolak kiriman wesel dari ortu dan mau belajar mandiri cari duit sendiri buat biaya kuliah, kos, makan dll. Karena sering kepepet (tapi gengsi minta duit ke ortu), saya harus masak sendiri supaya hemat. Kegiatan memasak/membantu memasak ini sebenarnya sejak kecil juga sudah biasa saya lakukan karena bapak kami AL yang sering berlayar  meninggalkan istri dengan 5 anak – sementara saya anak sulung. Karena tidak tega lihat ibu kerja sendirian di rumah, saya bantu-bantu apa saja, termasuk bantu di dapur. Gitu ….

Apakah menu sehat itu berlaku secara umum atau setiap orang pada dasarnya unik sehingga menu sehat dari setiap pribadi dapat berbeda-beda?

Kalau menu sehat *alami*, jawabannya adalah berlaku umum. Makanan sehat alami dengan keseimbangan makanan pembentuk asam (acid forming) dan makanan pembentuk basa (alkaline forming) akan membuat tingkat keasaman/pH darah dan jaringan bersifat netral cenderung basa (pH 7,2-7,4). Dalam kondisi ini, organ-organ tubuh akan dapat bekerja dengan baik dan optimal, sehingga tubuh kita sehat, berenergi, dan awet muda. Kesimbangan ini dapat dicapai jika makanan pementuk asam dikonsumsi lebih sedikit daripada makanan pembentuk basa. Makanan pembentuk asam adalah sumber karbohidrat, lemak, makanan hewani, makanan olahan pabrikasi/kalengan/awetan/instan/dan sejenisnya, makanan dengan food additives sintetis, junk food/fast food, dll. Makanan pembentuk basa adalah buah-buahan segar dan sayur-sayuran segar – termasuk sayuran segar yang dikonsumsi mentah (salad sayuran/jus sayuran).

Selain sumber makanan dan bagaimana mengolah makanan, apakah cara menyajikan makanan , bagaimana cara  makan dan suasana hati  selama makan turut menentukan bagaimana makanan tersebut berdampak baik bagi tubuh kita?

Tentu saja ya! Mengunyah perlahan dan lebih lama memberi kesempatan mulut menghasilkan air liur mengandung enzim ptialin lebih banyak. Dengan demikian, karbohidrat akan lebih mudah dicerna di dalam lambung, sehingga nutrisinya menjadi lebih mudah diserap di dalam usus halus. Rasa syukur (terhadap makanan) dan rasa nyaman selama makan akan memacu produksi hormon relaksasi (terutama endorfin) lebih banyak, sehingga proses penyerapan nutrisi ke dalam sel menjadi lebih efektif. Dengan rasa penuh syukur, kita akan memberikan penghargaan lebih baik terhadap setiap suap makanan, sehingga makanan kita perlakukan sebagai bagian dari tubuh kita sendiri secara holistik, bukan sekadar pemuas mulut dan perut.

Mas Wied banyak mempelajari pola makanan,  mulai dari food combining, vegetarian, makrobiotik, mediterania, okinawa, raw food diet, dll. Apa yang menarik dari pola makan tersebut? Apa yang terbaik bagi orang Indonesia?

Inti dari semua diet yang Anda sebutkan itu rohnya sama (termasuk slow food/slow cooking): semuanya kembali ke makanan lokal dan alami. Menjauh dari ingar-bingar marketing gimmick yang diciptakan industri makanan-minuman yang menempatkan produknya seolah-olah benar-benar bergizi dan menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Apakah musik(klasik) juga memiliki sinergi dengan makanan?

Wah kalau yang ini lebih baik saya jawab ndak tahu. Hehe. Lha wong saya kalau dengerin musik klasik malah mumet. Maklum ‘tidak cerdas musik’ …

Tapi kalau lagi menikmati makanan di cafe/resto lalu dengar suaranya Pavarotti alm/Andrea Bocelli/Il Divo, misalnya, saya malah pilih stop  mengunyah dan menikmati dulu lagunya, baru nanti ngunyah lagi. Bagaimanapun, fokus tidak mungkin bisa dipecah. Salah satu harus rela jadi ‘alas suasana’ saja.

Setahu saya  mas Wied pernah mengikuti Tapabrata di Bali Usada? Bagaimana pengaruhnya terhadap pertumbuhan spiritual?

Wah besar sekali. Setidaknya saya jadi makin sadar diri, terutama tentang pentingnya mendengarkan diri sendiri dan di luar diri sendiri. Terhadap makanan, juga sangat berpengaruh. Kalau meditasi saya kekencengan, saya jadi ga tegaan terhadap makhluk hidup, sampai-sampai tidak bisa makan ayam (apalagi yang kelihatan berupa potongan tubuh! misalnya paha). Sebaliknya, makanan alami/organik dan cenderung vegetarian (seperti Food Combining yang saya lakukan) membuat pikiran lebih tenang, lebih stabil, lebih gampang konentrasi, lebih mudah merasa bahagia, lebih mudah bersyukur … Ini sebenarnya ada alasan ilmiahnya, tapi tidak perlu dijelaskan karena kepanjangan dan … tidak Anda tanyakan kan :o)

Apakah penyakit mental atau pikiran penyembuhannya juga dapat di dukung oleh sebuah pola makan tertentu? Atau tak ada hubungannya sama sekali?

Sangat ada hubungannya. Karena zat apapun yang masuk ke dalam mulut kita bersama makanan-minuman akan sangat berpengaruh terhadap emsoi melalui zat penghantar saraf (neurotransmitter) di otak kita. Makin banyak bahan bersifat toksik -seperti food additives sintetis, lemak tak sehat, pestisida- semakin lamban reaksi tanggap kita dan semakin emosional. Generasi ABG pemakan junk food cenderung pemberang dan apatis, sifat yang tidak dimiliki anak-anak penyantap makanan sehat alami. Jadi, kalau ada balita yang kalau diajak ngomong seolah-olah cuek, jangan salahkan anaknya. Salahkan ortunya yang memberi makanan ngacau, sehingga reaksi tanggap cepat si anak terhadap pesan yang datang menjadi lamban.

Hal apa yang ingin disampaikan tentang profesi yang dijalani saat ini?

Pendidikan saya S1 gizi msayarakat dan S2 manajemen pemasaran serta pengalaman 20 tahun bekerja di media massa (belakangan aktif sebagai host Harmoni TransTV, lalu presenter Masak Sehat Bersama Wied Harry dalam acara Jelang Siang TransTV) merupakan kombinasi yang menantang bagi dunia industri makanan-minuman. Tapi mohon maaf kepada yang sudah mengajak saya bergabung -termasuk para sahabat dari dunia periklanan-, karena saya justru lebih bahagia untuk ‘menyepi’ dari ingar-bingar dunia industri makanan-minuman. Mohon maaf jika saya memilih berada di seberang dan/atau bersebarangan. Bukan memusuhi makanan-minuman industri, tapi sekadar ingin mengajak lebih banyak masyarakat untuk lebih mengenali kebutuhan dasarnya bagi kesehatan diri sendiri sebelum mengambil keputusan untuk membeli atau tidak membeli makanan-minuman industri.

Mohon sarannya untuk kabarsehat.com, sebuah portal kesehatan holistik yang baru di launch tanggal 9 Perbuary 2009?

Dari segi isi, info makin diperkaya dengan keterangan dari narasumber ahli di bidangnya. Dengan demikian, kabarsehat.com bisa menjadi acuan.

Semoga wawancara dengan Wied Harry Apriadji bermanfaat bagi Anda.


*Anda Ingin Berkonsultasi dapat melalui “Ruang Konsultasi” Silahkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.